MAKASSAR – Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Golkar Sulsel tidak lama lagi berlangsung. Arena yang ditunggu-tunggu para kader partai berlambang pohon beringin itu untuk menentukan sikap mendukung calon ketua Golkar Sulsel.
Sejauh ini, nama Munafri Arifuddin paling diperhitungkan. Appi-sapaan Wali Kota Makassar itu, disebut-sebut sudah mengantongi dukungan dari 19 DPD II Golkar kota-kabupaten di Sulsel.
Dukungan itu dianggap sebagai jalan mulus bagi Appi untuk memimpin Golkar Sulsel ke depan. Apalagi, mantan Ketua Golkar Sulsel, HM Taufan Pawe tidak lagi berniat untuk maju bertarung.
Taufan Pawe disebut-sebut akan fokus menjalankan tugasnya sebagai legislator di Senayan.
Pengamat Politik dan Kebijakan Publik yang sekaligus Direktur Profetik Institute, Asratillah bilang, jika peluang figur yang bakal memimpin Golkar Sulsel, itu mengerucut pada figur yang memiliki tiga modal sekaligus.
“Modal itu, yakni dukungan struktural, kapasitas elektoral, dan penerimaan lintas faksi,” kata Asratillah, Kamis 01 Januari 2026.
Bahkan menurutnya, Musda bagi seluruh partai politik bukan lagi sekadar ajang adu senioritas. Melainkan forum rasional untuk menentukan figur yang paling mampu menjaga stabilitas organisasi.
Figur yang juga dianggap bisa meningkatkan daya saing partai ke depan dalam pertarungan pemilihan umum.
“Dari sudut pandang ini, kandidat yang hanya kuat di elite tetapi lemah di struktur bawah akan kesulitan mengunci kemenangan,” pungkas Asratillah.
Dengan begitu, Asratillah memandang, Appi merupakan figur yang berpeluang pada posisi yang relatif paling diuntungkan.
Baginya, Appi tidak hanya membawa status sebagai Wali Kota Makassar (wilayah dengan bobot politik terbesar di Sulsel). Akan tetapi juga konsisten membangun narasi dukungan untuk mengembangkan DPD II Golkar se-Sulsel.
“Dalam tradisi Golkar, kekuatan ril selalu bertumpu pada konsolidasi kabupaten-kota, sehingga figur yang mampu mengamankan basis itu secara politik sudah selangkah lebih maju dibanding kandidat lain,” tuturnya.
Selain faktor dukungan, Appi juga diuntungkan oleh citra sebagai figur transisi yang tidak terlalu lekat dengan konflik internal masa lalu.
Hal itu membuat Appi lebih mudah diterima oleh berbagai kubu yang selama ini bersaing.
“Dalam situasi partai yang ingin segera keluar dari ketegangan internal pasca-pemilu, figur seperti ini sering dianggap sebagai pilihan aman sekaligus efektif, bukan karena paling keras bersuara, tetapi karena paling kecil memicu resistensi,” timpal Asratillah.
Tentu, peluang bukan berarti kepastian. Dinamika Musda Golkar selalu menyisakan ruang negosiasi di detik-detik akhir. Namun jika indikator politik hari ini dijadikan acuan, Munafri Arifuddin (Appi) berada di jalur paling realistis untuk memimpin Golkar Sulsel,” sambungnya memperjelas.
Terakhir, Asratillah berpendapat, jika Appi merupakan sosok yang dapat menggabungkan kekuatan struktural, legitimasi elektoral, dan kebutuhan partai akan kepemimpinan yang konsolidatif.
“Ini sebuah kombinasi yang jarang muncul bersamaan dalam satu figur,” kuncinya. (*/bs)













